Monday, 4 April 2016

Wisata Sejarah Candi Ijo Yogyakarta

Pernah enggak sih kalian bingung ketika melihat tanggal merahnya berentet hahaa.. Untuk sekarang enggak usah bingung-bingung lagi, kalian ke kota Jogja juga sudah banyak wisata yang bisa kalian kunjungi salah satunya adalah Candi Ijo. Candi yang tertinggi di kota Jogja yang letaknya diatas bukit Gumuk Ijo wilayah Sambirejo Prambanan. Memiliki ketinggian 375 mdpl. Untuk info lebih jelasnya, simaklah ulasan di bawah ini.


Tentang Wisata Sejarah Candi Ijo Yogyakarta



Nama Candi Ijo ini mungkin masih terdengar asing di telinga sobat-sobit petani padahal wisata sejarah Candi Ijo ini merupakan peninggalan sejarah yang wajib kalian kunjungi. Candi Ijo ini letaknya masih berdekatan diantara perbukitan yang sama dengan candi lainnya seperti : Candi Barong, Candi Ratu Boko dan Candi Banyunibo. Candi Ijo adalah sebuah komplek Candi yang bercorak hindu, kurang lebih berada pada 4 km dari arah tenggara. Sedangkan dari Candi Ratu Boko kurang lebihnya berada pada 18 km disebelah timur kota Jogja.

Menurut perkiraan sejarah Candi Ijo dibangun antara kurun abad ke-10 s/d ke-11 Masehi pada zaman kerajaan Medang periode Mataram. Bila sobat-sobit petani sudah berada di lokasi ini cobalah lihat kearah selatan, kalian pasti akan menemukan sebuah lembah yang cukup curam nan indah.

Di Candi ini para sobat-sobit petani akan banyak menemukan beraneka ragam relief karena Candi Ijo terdiri dari 17 struktur bangunan, serta terbagi menjadi 11 teras. Teras pertama merupakan halaman yang menuju pintu masuk yang disebut teras Berundak, yang membujur dari barat - timur.

Dari ke- 11 teras ini yang paling sakral ialah teras yang paling atas yaitu teras 11. Pada teras teratas terdapat 8 lingga patok. Disekeliling Candi para sobat--sobit petani akan menemui pahatan dinding menandakan bahwa Candi ini adalah peninggalan umat Hindu. Diatas pintu masuk terdapat Kala Makara dengan motif kepala dua beserta atributnya.

Kala makara juga dapat sobat-sobit petani jumpai pada Candi penganut Budha, ini menunjukan bahwa Kala Makara merupakan bentuk akulturasi, artinya proses sosial yang timbul apabila terjadi percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi antara kebudayaan Budha dan Hindu. Candi yang memiliki motif Kala Makara diantaranya adalah : Candi Plaosan, Candi Ngawen dan Candi Sari .

Ada pula arca yang menggambarkan sosok perempuan dan laki-laki yang melayang atau terbang mengarah pada sisi tertentu. gambaran arca tersebut diartikan sebagai Suwuk untuk mengusir roh jahat. Arti yang kedua ialah sebagai lambang persatuan Dewa Siwa dan Dewi Uma. Persatuan tersebut dimaknai sebagai awal mulanya tercipta alam semesta.

Bagian dalam Candi para sobat-sobit petani akan melihat peninggalan-peninggalan lain yang berupa Lingga yang kita sapa Lingga Yoni. Lingga Yoni ini mempunyai ukuran yang cukup besar dan terbesar di Indonesia. Besar ukuran Linggar Yoni tersebut menandakan besarnya pemujaan terhadap Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Lingga Yoni tersebut merupakan gambaran dari sifat lelaki dan perempuan bermakna sebagai kesuburan dan awal mula suatu kehidupan di dunia.
Baca Juga : Candi Mendut
Diatas Lingga Yoni terdapat batu Lingga berbentuk bulat silinder berbentuk ceruk, mempunyai ujung sebagai tempat aliran air dari Lingga Yoni. Besar kemungkinannya pemujaan terhadap Dewa Siwa dilaksanakan dengan menuangkan air diatas Lingga tersebut hingga mengalir ke Yoni. Aliran air tersebut dianggap sebagai air yang suci.

Selanjutnya pada para sobat-sobit petani dapat melanjutkan melihat dan mengamati yang ada di Candi  Ijo ini yaitu arca Nandi atau Lembu. Pada dahulu kala Arca Nandi atau Lembu ini sebuah kendaraan yang dipakai Dewa Siwa. Sedangkan arca-arca lainnya sperti arca Ganesha, Agastya dan Durga itu merupakan hiasan pada tempat-tempat tertentu pada dinding Candi, hiasan Candi tersebut sekarang telah disimpan di Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala BP3 Yogyakarta.

Rute Menuju Wisata Sejarah Candi Ijo Yogyakarta

Untuk mencapai daerah limayan dibilang cukup mudah namun tetap harus berhati-hati. Bila berangkat dari arah Yogyakarta-Solo terus ke arah Prambanan. Sampai dipertigaan lampu merah pasar Prambanan belok kekanan menuju Jalan Raya Prambanan-Piyungan, lalu telusuri jalan tersebut. Ketika sudah menemukan papan petunjuk jalan untuk belok kekiri menuju Keraton Ratu Boko "Jangan ikuti arah papan tersebut" Tetapi teruslah ikuti arah menuju Prambanan-Piyungan.

Para sobat-sobit nanti akan menemukan papan belok kekiri menuju wisata sejarah Candi Ijo dan ikutilah. Ikuti terus jalan aspal desaa yang disuguhkan dengan pemandangan sawah di bagian kiri dan kanan. Bila para sobat-sobit petani takut  tersasar janganlah ragu-ragu untuk bertanya. Bila jalur yang sobat-sobit lalui benar maka akan menemukan jalan aspal yang menanjat, itulah Bukit Ijo dan selesai deh.

Mulai sekarang mari kita lestarikan serta jaga semua peninggalan sejarah Indonesia seperti wisata sejarah Candi Ijo. Orang yang melupakan sejarah adalah seperti orang yang sengaja melupakan pengalaman-pengalaman berharganya padahal Pengalaman adalah tempat belajar segala kebutuhan hidup dan sejarah adalah tempat belajar keinginan dari kehidupan. Salam lestari salam bunga padi.

2 komentar


EmoticonEmoticon